Comments:
1
Posted in:
berita kontraktor
Selasa, 13 Mei 2008. Sekitar jam satu siang, saat saya turun dari kereta argo muria di stasiun tawang, sudah menjadi kebiasaan didepan mulut keluar stasiun pasti berjejer para sopir taksi yang menawarkan jasa pengantarnya. Didepan saya ada tiga orang muda-mudi berusia rata-rata sekitar 25 tahun, yang juga satu kereta dengan saya tadi, sedang dihampiri seorang sopir.
Sopir itu terkesan agak memaksa ketiga orang tadi, membuntuti, sambil terus-menerus berkata: “Taksi mbak, taksi, ayo mari saya antar kemana, taksi mbak, mas, taksi”, dan salah seorang dari mereka menjawab, “ndak pak, kami mau naik angkot saja di depan” . Tiba-tiba sopir tersebut nyelutuk, mungkin karna kesel dicuekin “wah, ngganggo argo kok numpak e angkot!”. Dan terjadilah keributan, karena sepertinya, salah satu dari ketiga orang tersebut berteriak kepada si sopir tadi “PAK, COBA ULANG TADI BILANG APA?!”. Sopir tersebut berlalu sambil menggumam : “nganggo ARGO numpak e ANGKOT, NGISIN-NGISINI!”. Geli saya. Pikir saya, emang kenapa kalo setelah naik argo dan kemudian disambung dengan angkot. Benar saja, ketiga orang tersebut kemudian balik berteriak lagi: “TERUS KENAPA PAK KALO SAYA NAIK ANGKOT? KOK BAPAK YANG SEWOT?!”. Terus kata yang satu lagi: “KOK RESEH SIH, KITA MO NAIK APA KAN TERSERAH KITA!”
Sukurin lo! Makanya, jaga mulut! Inti dari tulisan ini sebetulnya hanya mengingatkan kita untuk menjaga mulut masing-masing. Apa saja pekerjaan yang kita lakukan, bila kita mengerjakannya dengan iklas, dan juga selalu menjaga perasaan orang lain, pasti akan ada hasilnya. Seperti si sopir tadi, hilang sudah kesempatannya memperoleh pelanggan, karna kecerobohannya sendiri, dan dia juga tidak sadar, karna tidak menjaga mulutnya, penumpang lain pun menyibir kearahnya. Soo, yang jelas, “mulutmu, harimaumu…” J
May 15th, 2008 at 1:32 am
Wah, wah… awas ntar taksi nya disumpahin keserempet Argo