Comments:
0
Posted in:
berita kontraktor
Sebagai salah satu kontraktor semarang, kami turut prihatin dengan kejadian ambruknya atap terminal mangkang ini. Kami hanya berpendapat bahwa kesalahan ini bisa saja disebabkan kesalahan dari pekerjaan konstruksi, kesalahan penggunaaan material ataupun kualitas bahan bangunan yang menggunakan mutu rendah, maupun maupun kesalahan pada saat mendesain. Kami berharap kepada segenap pihak terkait, khususnya segenap kalangan kontraktor dan jasa konstruksi, untuk selalu meningkatkan mutu dan kualitas pada saat mengerjakan proyek. Disamping itu, dari sisi desainer, arsitek dan perancang, kami juga berharap kepada segenap kalangan perancang agar terus berupaya untuk melakukan konsolidasi dan pengawasan secara berkala terhadap pihak-pihak terkait di lapangan, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Berikut kutipan dari beberapa media massa.
site:suaramerdeka.com Suara Merdeka CyberNews (24/11) : Atap Terminal Mangkang Runtuh, 14 Pekerja Luka-Luka
Kecelakaan kerja kembali terjadi di Semarang. Setelah Kamis (22/11) lalu, seorang pekerja Hotel Ibis tewas terjatuh, kini giliran 14 pekerja proyek pembangunan Terminal Tipe A Mangkang menjadi korban.
Mereka jatuh dan tertimpa atap bangunan Terminal Mangkang yang runtuh, Sabtu (24/11), sekitar pukul 14:15. Para pekerja itu mendeita luka-luka tertimpa material atap, seperti kerangka baja, kayu, dan genteng. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menyelidiki penyebab runtuhnya atap tersebut.
Seluruh korban segera dilarikan ke UGD RSU Tugurejo. Pekerja yang menderita luka ringan antara lain Hermanto (45), Karsidi (45), Kastubi (50), Eri Setiawan (20), Batin (40), Mintarno (40), Supai (52), Santoso (40), Tumito (40), dan Karnawi (40).
Mereka hanya mengalami luka memar dan lecet di bagian kepala, tangan, dan kaki. Sedangkan empat pekerja menderita luka berat dan harus menjalani rawat inap, yakni Darno (45); patah tulang leher, Sugiyoto (40); patah lengan kiri, Tugino (40); patah tulang belakang), dan Suwito (35); luka parah di bagian kepala. Seluruh korban adalah warga Desa Tubanan RT 3 RW 7 Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Mereka bekerja membangun Terminal Mangkang.
Menurut Karnawi, peristiwa nahas itu berlangsung cepat, dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Saat itu 17 pekerja tengah mengerjakan atap bagian barat bangunan utama Terminal Mangkang yang berlantai dua. Sebagian memasang kayu reng, yang lain menata genteng.
Setelah sisi selatan selesai, mereka hendak mengerjakan atap di sisi utara. Namun, ketika pekerja baru menaikkan kayu reng dan menata genteng, tiba-tiba atap kerangka baja terasa goyah dan beberapa detik kemudian runtuh. Runtuhnya atap dimulai dari sebelah timur dan merembet ke arah barat. Tak ayal, para pekerja yang berada di atas atap setinggi 20 meter itu pun berjatuhan.
”Sebelum runtuh, kami tidak merasakan tanda-tanda apapun. Tiba-tiba saja atap goyang dan kami berjatuhan. Setelah itu, saya tidak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah digotong teman-teman,” ujar Karnawi.
Sejumlah saksi mata menuturkan, sebagian korban tergeletak tak sadarkan diri di antara reruntuhan genteng dan kayu. Bahkan, ada yang terjepit di antara kerangka baja. Melihat hal itu, pekerja lainnya langsung memberikan pertolongan. Korban diangkut menggunakan mobil milik kontraktor atau dititipkan bus umum yang lewat untuk dibawa ke RSU Tugurejo.
”Tidak ada angin kencang atau gempa. Tiba-tiba saja atap runtuh. Ya mungkin kerangka baja itu tidak kuat menahan beban genteng dan kayu,” terang Lim Suntoro pekerja asal Purwodadi.
Koordinator Lapangan PT Aditya Dewata Gilang Semesta–kontraktor yang mengerjakan pembangunan Terminal Mangkang tahap V– Edi Suryo Atmodjo, enggan berkomentar banyak menanggapi kecelakaan tersebut. Kendati demikian, dia menegaskan pihaknya akan bertanggung jawab terhadap para korban. Seluruh biaya perawatan mereka di rumah sakit akan ditanggung sepenuhnya. ”Seluruh pekerja di sini, kami asuransikan. Jadi, para korban tidak usah memikirkan biaya pengobatan dan perawatannya,”.
site:liputan6.com SCTV : Terminal Mangkang Roboh, 15 Pekerja Terluka Liputan6.com, Semarang: Terminal Mangkang, Semarang, Jawa Tengah, yang dalam proses pembangunan roboh, Sabtu (24/11) petang. Akibatnya, 15 kuli bangunan yang lagi kerja tertimpa reruntuhan balok besi serta kayu bangunan. Para korban yang mengalami patah tulang pada tangan, punggung, dan kaki langsung dibawa ke Rumah Sakit Tugurejo.
Hingga kini belum diketahui penyebab robohnya rangka terminal. Namun diduga kuat karena tidak kuatnya besi kerangka atap menahan beban bangunan. Terminal Mangkang dibangun Pemerintah Kota Semarang dengan dana Rp 3,9 miliar. Rencananya terminal untuk menggantikan Terminal Terboyo yang sudah rusak.(JUM/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo).
site:wawasandigital.com Harian Wawasan- Musibah Terminal Mangkang Nilai lelang terlalu rendah, benarkah? (27/11)
SEMARANG – Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) DPC Kota Semarang, Ir H Mur Aris Satoto, meminta semua pihak harus diperiksa terkait runtuhnya atap bangunan Terminal Mangkang, yang diduga tidak mampu menyangga beban genteng yang baru terpasang.
”Semua harus dikaji, mulai sisi perencanaan hingga sistem lelangnya. Saya sendiri tidak membela PT Aditya Group selaku kontraktornya. Namun pertanyaan yang beredar di masyarakat adalah ’yang nggarap siapa?’ Padahal belum tentu kontraktornya yang salah. Jika kontraktor sudah mengerjakan bangunan sesuai perencanaan, apa mereka salah,” terangnya, saat dikonfirmasi Wawasan pertelepon, pagi tadi.
Berdasar Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 80 tentang pelaksanaan lelang konstruksi, mengatur bahwa harga terendah yang akan menjadi pemenang, sehingga menguntungkan negara. Menurut Toto, justru itu yang menjadi penyebab. Menurutnya, Kepres itu berefek pada tuntutan untuk menguntungkan negara, hingga mengakibatkan mutu bangunan rendah.
”Logikanya, mana mungkin harga rendah bisa mendapat mutu terbaik. Sementara harga tinggi saja, mutunya bisa rendah. Apalagi jika harganya rendah, tentu mutunya juga rendah. Untuk itu, semua harus diklarifikasi dan diperiksa. Mulai dari perencananya, konsultan atau pengawasnya, pelaksana serta konsultan pengawasnya, serta panitia lelangnya,” tegasnya.
Apakah pengawasnya sudah sesuai atau tidak, atau bagaimana kesepakatan panitia lelang dengan PT Aditya Group. ”Apakah hasil kesepakatan itu juga berdasarkan bestek yang sudah ditentukan perencana atau tidak?” tambahnya.
Toto sendiri menilai bahwa nilai lelang proyek pembangunan Terminal Mangkang yang telah dimenangkan PT Aditya Group sangatlah rendah. Bahkan, berdasar kalkulasinya, harga itu tidak akan sesuai dengan perencanaannya.
”Tapi bagaimana lagi, lha wong PT Aditya sudah menyatakan kesanggupannya, dan berhak mendapatkan proyek itu, meski kami sudah mengingatkan berkalikali, ” tegasnya.
Pihak Gapensi Kota Semarang sendiri tidak akan memberikan sanksi kepada para anggotanya (termasuk PT Aditya), yang melakukan kesalahan pengerjaan konstruksi selama para pengguna tidak protes, dan pelaksananya (kontraktor, red) bertanggungjawab atas kesalahan yang dibuatnya.
Tetapi, jika tidak ada tanggungjawab, pihaknya akan memberikan sanksi dalam bentuk surat pernyataan black list, yang akan ditampilkan di media, serta web yang dimiliki Gapensi di seluruh Indonesia.
Ganti atap
Terpisah, Komisi C DPRD Kota Semarang bersama Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang dan Kapolresta Semarang Barat, kemarin, meninjau Terminal Mangkang yang roboh.
Peninjauan itu dipimpin Ketua Komisi C, Humam Mukti Azis, disambut Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek Terminal Mangkang, Gatot Suhendro, serta Dirut PT Aditya Dewata Gilang Semesta (ADGS), Adi Setiawan itu. Pada kesempatan itu Komisi C DPRD meminta keseluruhan konstruksi atap main building diganti.
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan kontraktor perlu melakukan pengecekan me-nyeluruh terhadap kekuatan konstruksi atap terminal, apakah konstruksi yang digunakan sudah memadai atau tidak. Selanjutnya, meski sesuai bestek, tapi kalau nyatanya ambruk, ya harus diganti. Penggantian sebaiknya bukan hanya atap yang rusak, tapi keseluruhan konstruksi atap. “Kalau ambruk lagi, siapa yang menjamin,” ujar Anggota Komisi C, AY Sujiyanto.
Menurut PPTK Terminal Mangkang, Gatot Suhendro, pihaknya belum bisa menentukan penyebab ambruknya konstruksi terminal itu, apalagi TKP telah di-police line dan pihak DPU tidak bisa masuk untuk melakukan pemeriksaan.
Untuk sementara pihaknya akan mengkaji secara internal lebih dulu, sambil menunggu penyelidikan pihak kepolisian. Sementara itu Dirut PT ADGS, Adi Setiawan, menuturkan, ambruknya atap bisa jadi karena ketidaksesuaian konstruksi tiang dan atap. Hal itu mungkin saja terjadi, karena kedua pekerjaan itu dikerjakan kontraktor lain.
Indikasi korupsi
Runtuhnya atap Terminal Mangkang yang baru dalam proses itu, dalam pandangan Eko Haryanto, Koordinator pengaduan masyarakat Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah, merupakan indikasi kuat adanya tindak korupsi.
Indikasi itu, menurutnya, sangat kuat, dengan kemungkinan terjadinya pengurangan volume material, mulai besi konstruksi hingga atap bangunan.
“Jelas ada indikasi korupsi. Jika sampai ambruk, pasti ada apa-apa, jika semuanya normal pasti bangunannya masih berdiri tegak. Lha ini tidak ada angin tidak ada hujan dan tidak ada api, kok tiba-tiba ambruk,” tegasnya.
Eko menambahkan, sejak lama dia mendengar telah terjadi mark up dana untuk proyek ini. Meski demikian ia mengaku belum mempunyai data pasti mengenai anggaran yang digunakan dan dari mana, apakah dari APBN atau APBD. abe/hid/rth/zal